Tuhan dalam Persepsi
Masyarakat Hindu Toraja Barat ….. ( 1 )
Oleh : Ferdinandus
Nanduq, Toraja
Pendahuluan
Tuhan, merupakan tema pokok dalam filsafat Ketuhanan dan teologi yang
keduanya memiliki persepsi masing-masing. Perbedaannya terletak pada
bagaimana menerima Tuhan sebagai obyek kajian. Filsafat menerima Tuhan
berdasarkan pendekatan fikir atau rasional sedangkan Teologi berdasarkan
keimanan. Di kalangan para filosof, perdebatan tentang Tuhan term asuk
hubungannya dengan ciptaan telah lama menjadi perbincangan. Dalam filsafat
Ketuhanan terdapat berbagai teori tentang Tuhan, mulai dan Animisme,
Dinamisme, Totemisme, Politheisme, Natural Politheisme, Henotheisme
(Kathenoisme, Pantehisme, Monotheisme) (terdiri atas Monotheisme Imanent dan
Monotheisme Trancendent), hingga Monisme.
Dalam agama Hindu yang dianggap sebagai agama tertua di dunia, telah membahas
masalah Ketuhanan sejak zaman Veda. Kendati Weda sebagai Kitab Suci Agama
Hindu tidak diketahui secara pasti kapan diwahyukan, tetapi diantara para
ahli ada yang memperkirakan 2.400 Sebelum Masehi. Menurut keyakinan umat
Hindu bahwa Weda adalah sabda Brahman bersifat Anadi Ananta artinya tidak
berawal dan tidak berakhir, sehingga Weda diyakini sudah ada sejak Brahman
atau Tuhan Yang Maha esa ada.
Agama Hindu, termasuk yang di
Indonesia pernah mengalami persepsi yang keliru tentang bagaimana umat Hindu
memahami Tuhan sehingga menjadi “bulan-bulanan” bagi agama-agama belakangan,
yang kemudian (salah satu dan faktor lainnya yang) berimplikasi pada fenomena
konversi pada pemeluk-pemeluknya yang pada akhirnya berada pada posisi
minoritas, tidak terkecuali umat Hindu Alukta di kalangan etnis Toraja Barat.
Tuhan dalam pandangan agama Hindu dikenal dengan beberapa istilah. Dalam
Weda, Tuhan disebut Dewa atau Dewata, Tat yang diterjemahkan Itu, dan Sat
yang artinya kebenaran mutlak. Dalam pandangan upanisad, Tuhan diistilahkan
“Brahman” yang bersifat Sat Cit Ananda artinya Brahman adalah satu-satunya
realitas rohani yang bersifat mutlak tetapi meliputi yang ada (sat) yang
sadar atau yang bersifat kekal (cit) dan sumber kebahagiaan sejati (ananda).
Sedangkan dalam Lontar-Lontar di Bali tuhan digelari Bhatara Siwa. Adapun
Sang Hyang Widhi Wasa, pada mulanya adalah sebutan Tuhan dalam pandangan
masyarakat Hindu di Bali, tetapi sekarang sudah menjadi istilah umum bagi
umat Hindu di Indonesia yang dipadankan maknanya dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Sang Hyang Widhi Wasa artinya “Yang menakdirkan” dan / atau “Yang Maha Kuasa”.
Akibat dan konsep Agama Hindu
yang demikian, maka tak jarang bagi orang yang tidak memahami secara utuh
mengambil kesimpulan-kesimpulan yang keliru. Max Muller, misalnya, pernah
menganggap bahwa konsepsi Ketuhanan Hindu adalah Natural Politheisme, tetapi
kemudian menyebutnya sebagai Henotheisme (Kathenoisme) yaitu keyakinan
terhadap adanya Dewa tertinggi pada suatu masa digantikan kedudukannya oleh
Dewa yang lain sebagai Dewa tertinggi. Umat Hindu menyembah berhala ataupun
tudingan bahwa agama Hindu bukan wahyu tetapi buatan manusia semata. Bahkan
Djam’annuri berpandangan bahwa Agama Hindu adalah agama yang tidak mempunyai
bentuk dan selalu merupakan suatu himpunan dari unsur-unsur yang tidak sama
dan tidak tetap, diibaratkan sebuah bola salju yang selalu mengelinding dan
semakin besar, karena menghisap sebagian besar apa yang dilaluinya, akan
tetapi memiliki inti atau azas yang tetap. Sehingga agama Hindu dirumuskan
sebagai agama yang tidak memiliki suatu pengakuan iman yang dapat dirumuskan
dengan jelas, dan disepakati oleh semua pengikutnya. Singkatnya, menurut
Pudja, kesalahan penafsiran itu akibat sumber informasi yang dipergunakan
dalam melihat sistem Ketuhanan Hindu tidak secara menyeluruh tetapi lebih
cenderung hanya berpatokan pada kitab-kitab purana saja.
Masyarakat Hindu Alukta dan etnis
TorajaBarat di Kabupaten Mamasa sampai saat ini masih “sering dianggap”
sebagai penganut Animisme dan Dinamisme, walaupun secara formal telah
menyatakan dan diterima sebagai bagian integral Hindu di Indonesia sejak 40
tahun silam. Keyakinan ini dinyatakan bagian integral Hindu di Indonesia
sejak Tahun 1964, Akibatnya, banyak umat Hindu di daerah ini, terutama di
bawah tahun 1980-an, melakukan konversi religius, beralih ke agama lain
terutama Agama Kristen.
Untuk memberikan pengetahuan
dan sebagai langkah awal pencerahan bagi umat Hindu; khususnya di Hindu etnis
Toraja Barat itu sendiri terhadap kenyataan-kenyataan seperti diatas maka
penulis terdorong memaparkan sekelumit persoalan Ketuhanan dalam masyarakat
Hindu Alukta dan etnis Toraja Barat di Kabupaten Mamasa. Tulisan ini lebih
bersifat deskriptif-eksploratif dalam arti mencoba mendeskripsikan secara
sistematis sebagai upaya menggali konsep-konsep lokal yang belum pernah
tersentuh melalui pendekatan ilmiah. Urgensi tulisan ini tidak terletak pada
validitas menurut kaidah ilmiah tetapi lebih bersifat informatif, selain
kepada umat Hindu Etnis Toraja Barat, juga kepada cendekiawan Hindu yang
memiliki perhatian besar pada Agama Hindu di Nusantara ini, untuk tergugah
melakukan penelitian yang lebih valid. Dalam tulisan ini akan dipaparkan tiga
(3) hal pokok yang menggambarkan bagaimana Tuhan dalam persepsi masyarakat
Hindu Alukta dan etnis Toraja Barat di Kabupaten Mamasa. Pertama, Sumber
ajaran Ketuhanan; Kedua, pengertian Tuhan, dan Ketiga, penggambaran Tuhan
dalam persepsi Masyarakat Hindu Alukta dari etnis Toraja Barat di Kabupaten
Mamasa.
Sumber Ajaran Ketuhanan
Agama merupakan suatu alat untuk menghayati keberadaan Tuhan yang bertitik
tolak dan kepercayaan, agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk
mengukur dalamnya makna dan keberadaannya sendiri dan agama telah menimbulkan
khayalan yang paling luas. Pendapat ini didukung oleh Zenophanes yang
menyatakan bahwa agama adalah khayalan manusia, kemudian menciptakan dewa-dewa,
yang merupakan Tuhan tidak bergerak dan kekal.
Dalam ajaran agama Hindu,
keyakinan akan adanya kuasa yang super natural (Tuhan) itu dijiwai oleh
ajaran Veda. Satu-satunya pemikiran tradisional adalah adanya pernyataan yang
menyatakan bahwa Veda adalah kitab suci agama Hindu. Sebagai kitab suci agama
Hindu, maka Veda diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya
sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
ataupun untuk waktu-waktu tertentu.
Veda adalah kitab tertua dari
perpustakaan umat manusia. Kebenaran yang terkandung dalam semua agama
berasal dari Veda yang akhirnya kembali kepada Veda. Veda adalah sumber utama
ajaran agama, sumber tertinggi dan semua sastra agama berasal dari Tuhan Yang
Maha Esa. Veda diwahyukan pada permulaan, adanya pengertian tentang waktu
serta tanpa adanya akhir. Dari Weda inilah mengalir ajaran yang merupakan
kebenaran agama Hindu. Ajaran Weda dikutip kembali dan memberikan vitalitas
terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya, seperti Smrti,
Itihasa, Purana Tantra, Darsana dan Tattwa-Tattwa yang kita warisi di
Indonesia. Weda bukan sebuáh buku yang tunggal seperti Tri Pitaka atau Injil
tetapi keseluruhan susastra yang muncul berabad-abad yang silam dan
diturunkan serta diteruskan dari generasi ke generasi melalui bahasa lisan.
Ketika manusia mengenal peradaban tulisan maka ajaran tersebut dituliskan
sehingga muncullah sumber-sumber tertulis yang bentuk dan jumlah yang banyak.
Penyebaran ajaran Veda melalui
daerah yang luas serta membutuhkan waktu yang sangat panjang. Menurut Drs. I
Gede Sura, seorang tokoh agama Hindu yang cukup mumpuni, karena luasnya
daerah dan panjangnya waktu yang dilaluinya, maka wajah Veda dapat saja
berubah sesuai dengan ruang dan waktu yang dilaluinya, tetapi esensinya tetap
esensi Veda.
Sampai disini, mungkinkah apa yang dipedomani umat Hindu etnis Toraja Barat
merupakan bagian dan Veda. Untuk menjawab ini, tentu sangat sukar. Data
sejarah yang otentik pun tentang bagaimana pengaruh dan penyebaran agama
Hindu seperti yang terjadi di Kutai, Kalimantan Timur, Tarumanegara di Jawa
Barat atau bagaimana pengaruh Kerjaaan Majapahit yang dikenal Kerajaan
Nusantara Kedua setelah Sriwijaya sebagaimana halnya terjadi di Bali,
sepengetahuan penulis belum pernah terungkap. Sumber ajaran Ketuhanan dalam masyarakat Hindu
Etnis Toraja Barat disebut Sukaran Aluk. Kata “Sukaran” bisa berarti ukuran,
patokan, dan pedoman/tuntunan, sedangkan Aluk berarti : Ajaran Agama,
kewajiban, sopan santun/norma-norma, atau aktivitas; tergantung konteks
kalimatnya. Segala aktivitas agama bersumber dan berpedoman pada sukaran
aluk. Jika tidak, maka dianggap utte’kai aluk yaitu secara harfiah berarti
melangkahi aturan agama (aluk) yang maksudnya melanggar aturan agama.
Sukaran Aluk diyakini
pemeluknya sebagai wahyu Puang Matua. Menurut Bero bahwa salah satu ciptaan
Puang Matua adalah Sukaran Aluk. “Kumombong Tosanda Sangka‘na untampa lalanna
aluk, kumombong pemali sanda saratu”. Artinya : lahirlah Beliau yang paling
sempurna (baca Puang Matua/Tuhan) untuk menciptakan aturan agama (Aluk),
membuat larangan agama (pemali) yang demikian banyak dan lengkap atau
sempurna (Ungkapan Sanda Saratu’ artinya harfiahnya: serba seratus).
Karena Sukaran Aluk adalah
wahyu dan Puang Matua yang merupakan sumber kebenaran tertinggi maka
kebenarannyapun tak diragukan lagi. “Tumompa sanda salunna (dibuat aturan
yang sempurna), Kumombong Sanda Tonganna (diciptakan dengan kebenaran yang
sempurna), demikian keyakinan umat Hindu terhadap Sukaran Aluk. Karena itu,
anggapan-anggapan yang keliru bahwa apa yang menjadi keyakinan umat Hindu di
Kabupaten Mamasa yang lazim dikenal Aluk To Matua adalah bukan agama wahyu
tetapi kebudayaan manusia semata, dalam arti, agama buatan manusia, tentu tidak
beralasan. Hal yang sama juga pernah dialami masyarakat Hindu pada umumnya.
Karena itu, Wiana berpendapat bahwa orang yang berpendapat demikian
sesungguhnya ada dua kemungkinan. Pertama, tidak mengetahui apalagi memahami,
dan kedua menghina agama Hindu.
Sukaran Aluk sebagai sumber
ajaran Agama yang dipedomani masyarakat Hindu etnis Toraja Barat yang begitu
luas, dalam konteks upacara, pada dasarnya diklasifikasikan menjadi lima
bagian. Kelima bagian tersebut diistilahkan Aluk Limo Randanna yang terdiri
dari :
(1) Aluk Bannne Tau,
(2) Aluk Pandanan Lettong,
(3) Aluk Pa ‘taunan,
(4) Aluk Rambu Solo, dan
(5) Aluk Manuk A’pak.
Kadang-kadang istilah Aluk dalam konsep ini disebut Pemala, walaupun keduanya
memiliki makna yang berbeda. Pemala lebih identik dengan upacara yadnya,
yaitu bentuk pelaksanaan kongkrit dari Aluk. Menurut Mas Putra bahwa upacara
adalah pelaksanaan yadnya sehingga disebut upacara yadnya.
Selanjutnya Sukaran Aluk yang
terurai menjadi Aluk Lima Randanna seperti di atas masih disederhanakan lagi
menjadi dua kategori, yaitu :
(1) Aluk Rambu Tuka, dan
(2) Aluk Rambu Solok.
Empat bagian dalam Aluk Limo Randanna yaitu Aluk Banne Tau, Aluk Pandanna
Lettong, Aluk Pa ‘taunan, dan Aluk Manuk A’pak, semuanya dikategorikan
kedalam Aluk Rambu Tukak. Sedangkan Aluk Rambu Solok berdiri sendiri.
Nampaknya kedua pembagian tersebut didasarkan pada bagaimana sikap manusia di
dalam menghadapi kenyataan hidup di dunia berdasarkan keyakinan agama. Aluk
Rambu Tuka’ merupakan gambaran sikap manusia yang penuh dengan suka cita di
dalam berhubungan dengan yang dipercayainya, sedangkan ketika manusia
mengalami suasana bathin yang berduka cita maka hubungan manusia dengan yang
dipercayainya disebut Aluk Rambu Solok, upacara yadnya yang berhubungan
dengan kematian.
Demikian, yang menjadi sumber
ajaran Ketuhanan dalam masyarakat Hindu Etnis Toraja Barat di Kabupaten
Mamasa adalah Sukaran Aluk. Ferdinandus (2002) berpandangan bahwa Sukaran
Aluk pada hakekatnya berisikan ajaran-ajaran dasar yang secara umum seperti yang
ada dalam rumusan Panca Sradha. Di dalam Ajaran-ajaran tersebut nampaknya
memperlihatkan fase-fase pemikiran manusia dalam hubungannya dengan Tuhan,
sama seperti apa yang terlihat dalam Agama Hindu pada umumnya di Indonesia.
Menurut I Gede Sura, Kitab Veda memiliki berbagai-bagai fase perkembangan
pemikiran keagamaan. Dalam Veda terdapat perwujudan tanda-tanda politheisme,
politheisme yang diorganisir, henotheisme, monotheisme, dan monoisme. WHD No. 450 Juli 2004.
(BERSAMBUNG)
Tuhan dalam
Persepsi Masyarakat Hindu Toraja Barat ( 2 )
|
|
|
Tuhan dalam Persepsi Masyarakat
Hindu Toraja Barat ( 2 )
Oleh : Ferdinandus Nanduq, Toraja
(Sambungan WHD. No. 450)
Defenisi Tuhan
Memasuki wilayah konsepsi tentang ajaran ketuhanan berarti telah berorientasi
pada sesuatu yang abstrak. Umumnya ide-ide tentang ketuhanan menyangkut
keyakiñan para penganut terhadap adanya kuasa di luar batas emperisme yang
diikuti oleh umatnya dalam rangka meningkatkan kemanusiaannya sesuai dengan
ajaran yang diajarkan dengan keyakinan.
Pemikiran untuk memberikan defenisi tentang Tuhan sesungguhnya sesuatu yang
tak mungkin dalam pandangan teologi (Hindu). Menurut Pudja, Tuhan dalam
pandangan agama Hindu, termasuk juga pada agama lain, adalah sesuatu yang
tidak mungkin atau mungkin salah, sebab suatu definisi yang baik harus mampu
memberi gambaran yang jelas dan lengkap, sedangkan Tuhan mencakup pengertian
yang luas dan serba mutlak. Namun demi kepentingan praktis, baik dalam sudut
keilmuan maupun dalam fungsinya sebagai media penghayatan keagamaan, defenisi
itu patut dihadirkan.
Agama Hindu sebagai agama tertua di dunia yang menyimpan segudang ajaran yang
tidak mudah dimengerti, telah tumbuh dan berkembang melalui keterpaduan
tradisi berbagai wilayah yang dilaluinya. Hal ini menimbulkan berbagai konsep
dan pengertian telah berkembang sebagai akibat perbedaan cara berpikir dan
cara penafsiran atas satu pokok keimanan yang sama tentang Tuhan. Misalnya,
perbedaan bahasa dapat memberi arti yang berbeda walaupun maksud pikiran adalah
seperti apa yang dinaksud sebenarnya. Ketidakmampuan manusia untuk menghayati
Tuhan yang sebenarnya dilukiskan dalam Wrhaspati Tattwa sebagai berikut:
"Hana wuta samoha, amalaku winarah wruh ring liman, saka swikaranya
wruha, amalaku ta ginamelaken dening wong manon liman, ndan kapwa dudu
ginamelnya sowang-sowang, hana anggameli hulu, kadi kumbha liman lingnya,
waneh angameli talinga, kadi hirir liman lingnya, waneh anggameli gading kadi
kakayu binunut liman lingnya".
(Wrhaspati Tattwa: 4. 1)
Artinya:
Ada orang buta berkumpul, mohon diberi tahu oleh orang yang mengetahui gajah,
karena keingin tahuannya demikian kuat, (ia) mohon agar dirabakan oleh orang
yang melihat gajah, tetapi masing-masing dirabakan pada bagian yang tidak
sama, ada yang dirabakan pada kepala, seperti tempayan gajah itu katanya,
yang lain dirabakan pada telinga seperti kipas gajah itu katanya, yang lain
dirabakan pada gadingnya, seperti kayu dibubut gajah itu katanya.
Dalam hal ini setiap orang membedakan keberadaan gajah
yang sama-sama tidak tahu gajah yang sebenarnya. Demikianlah juga tentang
keberadaan Tuhan, yang selalu menjadi perdebatan, padahal tidak tahu tentang
Tuhan yang sebenarnya.
Penghayatan Tuhan yang berbeda-beda inilah dalam masyarakat Hindu menimbulkan
berbagai macam nama untuk menyebut nama Tuhan dan memunculkan banyak perayaan
hari suci untuk memuja beliau yang satu. Keanekaragaman panggilan Tuhan dalam
ajaran agama Hindu sesungguhnya dibenarkan. Menurut Titib bahwa kitab suci
Weda dan susastra Hindu menyebut Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai nama,
Tuhan disebut dengan sahasranama (bhs. Sansekerta) artinya ribuan nama. Keanekaragaman istilah terjadi karena
faktor keterbatasan manusia pemuja-Nya di dalam memahaminya. Kitab Reg Weda
I. 164. 46 menyebutkan Mereka menyebut Indra, Mitra, Waruna, Agni dan Dia
Yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Yang Maha Esa itu oleh
orang-orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama seperti : Agni, Yama dan
Matariswan.
Demikian juga bagi masyarakat Hindu Alukta di Kabupaten Mamasa di dalam
memahami Tuhan tentu menggunakan tradisi dan budaya mereka sendiri yang
kesemuanya bersumber dari Sukaran Aluk. Tuhan diapresiasi sebagai Puang
Matua. Di samping Puang Matua, juga dikenal istilah Dewata yang jumlahnya
sangat banyak sesuai dengan fungsinya. Puang Matua diyakini ada dengan
sendirinya atau dengan kata lain tidak pernah dilahirkan ataupun melahirkan.
“Apa dadi ria puang matua lan silopakna tana kalua” atau lebih lengkapnya
“apa dadi ria Puang Matua lan ba’tangna langi”, kumombong ria Deata lan
silopakna padang kalua’, Puang tang didadian, Deata tang dikombongan. Kalimat
Puang Matua tang didadin yang artinya Puang Matua tidak dilahirkan
menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Hindu di Kabupaten Mamasa bahwa Tuhan
itu diyakini tidak dilahirkan tetapi ada dengan sendiriNya. Selain digelari
Puang Matua, Tuhan dalam keyakinan masyarakat Hindu Alukta etnis Toraja Barat
juga sering disebut Bhatara Tua dan Puang Takumombong.
Demikian juga Dewata, menurut keyakinan Umat Hindu Alukta, diciptakan seperti
adanya manusia yang dalam kutipan di atas disebut “Deata” (Bahasa Toraja
Barat : Dewata) tang dikombongan. Disini tentu ada perbedaan istilah antara
Dewata dalam masyarakat Hindu di Bali dengan apa yang diyakini dalam
masyarakat Hindu Alukta. Di Bali (dalam sumber tertulis) Dewata diartikan
sebagai dewanya para dewa yang pengertiannya sama dengan Tuhan sedangkan dewa
adalah bagian dan atau manifestasi dari Tuhan. Walaupun demikian,
sesungguhnya secara gramatikal bahasa Sanskerta, kedua kata ini mempunyai
pengertian yang sama. Dalam konsep Sukaran Aluk Dewata adalah mahkluk ciptaan
Puang Matua. Menurut Bero, seorang tokoh agama Hindu Alukta di Toraja Timur
Puang Matua menciptakan para Dewata untuk memelihara semua ciptaannya di
dunia.
Dewata ini diyakini jumlahnya sangat banyak. “Dewata ponno padang” demikian
dikenal dalam sastra tutur masyarakat Hindu Alukta, yang arti harfianya alam
semesta ini dipenuhi dengan Dewata. Adapun Dewata yang banyak itu, antara
lain : Dewata To Mepatama Lino (Manifestasi Puang Matua sebagai pencipta),
Dewata (To) Merandanan, manifestasi Puang Matua ketika sebagai pemelihara,
Dewata Wai yaitu dewata yang menguasai air, Dewata Pare yaitu Dewata yang
menguasai padi, Dewata (To) Masagala yaitu menifestasi Puang Matua sebagai
pelebur, Dewata Nawang, yang menguasai angkasa, Dewata Api yaitu Yang
menguasai api, Dewata Reu yakni Dewata yang menguasai tumbuh-tumbuhan
(istadewata bagi peternak), Dewata Litak (Dewa Prthiwi), Dewata To Mesalangga
(Dewata yang mengatur pergerakan bumi termasuk gempa bumi), Dewata Pangngalak
(Dewa penguasa hutan, dan lain sebagainya).
Dari sekian banyak manifetasi Puang Matua yang disebut Dewata, nampaknya
disederhanakan lagi menjadi tiga azas yang sebenarnya tunggal. Ketiga
pengelompokan dimaksud disebut Dewata Titanan Tallu, Puang Matua Tirindu
Lalikan; artinya tiga azas yang tak terpisahkan. Ketiga azas ini kurang
populer bagi masyarakat Hindu Alukta etnis Toraja Barat khususnya bagi yang
awam tetapi besar kemungkinan terdiri dari unsur; Puang Matua, Ampo Padang
dan Simbolong Padang yang identik dengan Tri Murti.
Konsepsi Dewata yang banyak melahirkan sebagai macam upacara yadnya yang
merupakan upaya konkritisasi dalam kehidupan nyata. Ketika manusia ingin
memuliakan dan memohon anugrah Tuhan dalam bidang pertanian maka mereka
melaksanakan upacara pa’taunan yang ditujukan kepada Dewata Pare. Di bidang
peternakan, antara lain, dilaksanakan upacara Ummalli Reu yang ditujukan
kepada Dewata Reu, dan upacara-upacara lainnya. Jadi kegiatan keagamaan yang
menonjol dalam masyarakat Hindu etnis Toraja Barat akan lebih banyak dalam
bentuk upacara keagamaan. WHD No. 451 Agustus 2004.
(BERSAMBUNG). |
Tuhan dalam
Persepsi Masyarakat Hindu Toraja Barat ….. ( 3 )
|
|
|
Tuhan dalam Persepsi
Masyarakat
Hindu Toraja Barat ….. ( 3 )
Oleh: Ferdinandus
Nanduq, Toraja
(Sambungan WHD No. 451)
Tuhan dalam Gambaran
Keyakinan Manusia
Penghayatan Ketuhanan pada masyarakat Hindu pada umumnya Tuhan diyakini dalam
bentuk Impersonal God (Tuhan yang tidak berpribadi) dan Personal God (Tuhan
Yang berpribadi). Tuhan yang dalam bentuk impersonal God berada pada alam
trancendent, di luar kemampuan pikir manusia sedangkan Personal God berada
pada alarn imanen yakni dapat dikenali lewat sifat-sifatnya yang tentunya
secara limitatif, relatif atau secara riil. Umumnya Tuhan dipuja sebagai
wujud yang berpribadi (personal God). Dalam aktivitas tertentu Tuhan menjadi
Istadewata bagi parameter pemujanya. Beliau dipuja sesuai dengan kepentingan
serta keinginan pemujanya.
Masyarakat Hindu Alukta mempunyai gambaran yang tidak berbeda jauh dengan apa
yang diyakini pemeluk agama lain tentang Tuhan. Menurut penuturan salah
seorang tokoh Hindu Alukta, Bero menyebutkan:
”Iamo Puang Matua lan ba’tangna langi, Deata sumpu mamase, Puang
sa’palabuda, tumampa tau rumende tolino, kumombong tosanda sangka’na untampa
lalanna sukaran aluk, kombong pemali sanda saratu, tumampa sangka kumombong
esungan palelan, tumampa sanda salunna kumombong sanda tonganna pa’kana
untampa Sang Deatanna kumombong ang pa’duananna” (dalam Allo
Padang, 1989).
Artinya:
Puang Matua itu maha Pengasih dan maha Penyayang serta Maha Pemurah. Beliau
Maha Pencipta, karena Beliaulah menciptakan manusia, angkasa, alam semesta
beserta isinya, menciptakan sukaran aluk (kitab suci), dan menentukan
pantangan-pantangan agama (pemali), merupakan kebenaran agama yang tidak bisa
dibantah oleh siapapun. Beliau menciptakan para Dewata untuk memelihara semua
ciptaannya didunia. Beliaulah yang berkuasa atas segala yang ada, tidak ada
duanya.
Tuhan senantiasa digambarkan oleh umat dengan predikat serba “Maha”. Tuhan
adalah Maha Pencipta. Segala yang ada di luar diri-Nya merupakan ciptaan
Beliau. “To Tumampa”, demikian gelar Beliau sebagai Maha Pencipta menurut
keyakinan Hindu Alukta, Dalam Kitab Suci Atharvavta X.2.25 disebutkan:
Brahmanã bhumir vihitã
Brahma dyaur uttarã hitã
Brahma-idam urdhvam tiryak ca
Antariksam vyaco hitam.
Artinya:
Brahman menciptakan bumi ini. Brahman menempatkan langit di atasnya. Brahman
menempatkan wilayah tengah yang luas ini di atas dan di jarak lintas.
Demikian, Tuhan yang bergelar Brahman diyakini pencipta alam semesta beserta
segala isinya, termasuk manusia. Bahkan Dewa-Dewa pun adalah ciptaan Beliau.
Karena segala sesuatu adalah ciptaan Beliau, manusia pun mengharapkan segala
sesuatu dari-Nya. Manusia meyakini bahwa Beliau Maha Pemurah, Maha Pengasih
dan Maha Penyayang. Ketiganya, oleh Umat Hindu Alukta, digelari-Nya dalam
satu kata, “Dewata Sumpu Mamase”. Kata Sumpu Artinya Maha sedangkan Mamase
bisa berarti: Pemurah, Pengasih, atau Penyayang. Dalam Kitab Yajur Veda X. 24
disebutkan : “Tuhan adalah Maha Suci bagaikan angsa, ..... Dia bagaikan orang
yang menghaturkan sesajen yang duduk di altar. Dia bagaikan tamu yang
beristirahat di sebuah Rumah”. Mantra ini mengandung makna bahwa Tuhan adalah
Maha Pemurah.
Selain sebagai Maha Pencipta, Tuhan pun senantiasa memperhatikan bagaimana
ciptaan-Nya di alam semesta. Umat Hindu Alukta menggelari Beliau sebagai
Puang Tomerandanan. Apa pun yang dilakukan, dipikirkan dan dikatakan selalu
dilihat tanpa bisa disembunyikan. Kitab Suci Atharvaveda IV. 16.5
menyebutkan:” Semua itu, Tuhan, Sang Raja, melihat apa yang ada dalam langit
dan apa yang diluar itu, Ia menghitung kedipan mata manusia, Seperti pemain
dadu menghitung dadu, Demikianlah Ia menetapkan hukum-Nya”.
“Puang Tomekambi’ Allo Bongi”, demikian predikat Puang Matua/Tuhan yang lain.
Artinya, Tuhan senantiasa melindungi/membimbing (segala ciptaan-Nya) baik di
siang (allo) maupun malam (bongi) hari. Dengan kata lain, Beliau Maha
Pelindung. Keyakinan ini, menurut Gde Pudja telah termuat di dalam Kitab Suci
Reg Weda X. 4.1.
Demikian antara lain gambaran umat Hindu Alukta tentang Tuhan yang dipuja
dalam kehidupan sehari-hari; tentu masih ada predikat-predikat lain yang
melekat pada-Nya. Hal ini cukup meyakinkan kita bahwa apa yang diyakini
mereka sesungguhnya sama dengan apa yang terdapat dalam Kitab Suci Veda dan
susastra Hindu.
Penutup
Dari paparan singkat di atas, penulis dapat menarik suatu kesimpulan sebagai
penutup tulisan ini sebagai berikut:
1. Filosofi Ketuhanan dalam masyarakat Hindu berlandaskan pada
konsep bahwa Tuhan itu satu, tetapi banyak, tergantung pada kemampuan manusia
didalam memahami dan juga oleh perbedaan budaya dan tradisi yang dilaluinya.
2. Sumber ajaran Ketuhanan dalam masyarakat Hindu Etnis Toraja
Barat adalah Sukaran Aluk yang isinya mendekati Weda itu sendiri.
3. Puang Matua dan Dewata adalah hasil apresiasi masyarakat
Hindu akan Tuhan menurut budaya dan tradisi Etnis Toraja Barat.
4. Demikian juga penggambaran Tuhan, di samping Impersonal God
juga Personal God. Dalam realitasnya, dominan memperlihatkan penggambaran
Personal God sesuai dengan kepentingan dan keinginan pemujanya.
Karena itu, perlu upaya penggahan konsep local genius
berupa penelitian yang mendalam sebagai langkah konkrit peng-inventarisasi-an
ajaran-ajaran agama Hindu di masing-masing daerah. Sehingga, benang merah
diantara sekian local genius dapat ditemukan, dan pada akhirnya bisa
melahirkan kesepahaman di antara sesama umat Hindu di berbagai daerah.•
WHD No. 452 September 2004. |
|
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda